Tantangan Literasi di Era Digital Indonesia

Tantangan Literasi di Era Digital Indonesia

literasi digital
Foto: UNSPLASH / Vitaly Gariev
Table of Contents

Literasi Digital – Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat mengakses informasi dan pengetahuan. Di satu sisi, kemudahan ini membuka peluang besar bagi penyebaran ilmu. Namun di sisi lain, perubahan tersebut juga memunculkan tantangan serius bagi dunia melek.

Di Indonesia, tantangan literasi di era digital menjadi semakin kompleks. Rendahnya minat baca konvensional, maraknya hoaks, serta kesenjangan akses teknologi menunjukkan bahwa melek tidak lagi sekadar soal membaca buku, melainkan kemampuan memahami, memilah, dan menggunakan informasi secara kritis.

Potret Literasi Digital di Indonesia

Pembahasan mengenai literasi digital di Indonesia kerap dimulai dari data yang memprihatinkan. UNESCO mencatat bahwa minat baca masyarakat Indonesia berada pada angka sekitar 0,001 persen, sementara rata-rata waktu penggunaan gawai mencapai sembilan jam per hari (UNESCO, 2016). Data ini menunjukkan paradoks antara tingginya konsumsi informasi digital dan rendahnya aktivitas membaca mendalam.

Perubahan pola konsumsi informasi membuat masyarakat lebih akrab dengan konten singkat di media sosial dibandingkan bacaan panjang seperti buku atau artikel analitis. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis dan konsentrasi membaca jangka panjang berpotensi melemah (UNESCO, 2016).

Tantangan Utama Literasi di Era Digital

Minat Baca Rendah dan Gangguan Digital

Salah satu tantangan terbesar melek digital adalah rendahnya minat baca konvensional. Notifikasi media sosial, video singkat, dan konten hiburan instan mengalihkan perhatian pembaca dari aktivitas membaca yang membutuhkan fokus. Kondisi ini berdampak pada kemampuan memahami teks secara mendalam dan reflektif.

Hoaks dan Banjir Informasi

Tantangan berikutnya adalah maraknya hoaks dan konten negatif. Menurut laporan Kementerian Komunikasi dan Informatika, penyebaran informasi palsu meningkat seiring dengan masifnya penggunaan media digital (Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, 2020). Tanpa kecakapan melek digital, masyarakat rentan terjebak disinformasi.

Kesenjangan Akses dan Infrastruktur

Akses internet dan perangkat digital yang belum merata, terutama di daerah terpencil, juga menjadi hambatan. Kesenjangan ini menyebabkan peluang literasi digital tidak dirasakan secara setara oleh seluruh lapisan masyarakat (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, 2021).

Kesiapan Sumber Daya Manusia

Kesiapan pengajar dan orang tua dalam mendampingi melek digital anak masih terbatas. Padahal, peran pendamping sangat penting untuk membentuk kebiasaan membaca yang sehat dan penggunaan teknologi yang bertanggung jawab (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, 2021).

Strategi Adaptasi Literasi Digital

Inovasi Konten Edukatif

Menghadapi tantangan tersebut, inovasi konten menjadi langkah penting. Buku digital, audiobook, dan infografis interaktif dapat menjadi alternatif untuk menarik minat generasi muda. Pendekatan ini menyesuaikan gaya belajar visual dan auditori tanpa meninggalkan substansi literasi (UNESCO, 2016).

Penanaman Empat Pilar Literasi Digital

Literasi digital tidak hanya mencakup kemampuan teknis, tetapi juga empat pilar utama: kecakapan, keamanan, budaya, dan etika digital. Penanaman nilai-nilai ini sejak dini membantu masyarakat menggunakan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab (Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, 2020).

Transformasi Perpustakaan

Perpustakaan memiliki peran strategis dalam adaptasi melek digital. Transformasi perpustakaan menjadi ruang publik digital yang menyediakan e-book, jurnal daring, dan layanan melek online dapat memperluas akses pengetahuan bagi masyarakat (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, 2021).

Kolaborasi Multipihak

Upaya meningkatkan melek digital membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, sekolah, komunitas literasi, dan keluarga. Sinergi ini penting untuk memastikan akses, kualitas konten, dan pendampingan literasi berjalan beriringan.

Penutup

Tantangan literasi di era digital menunjukkan bahwa membaca buku tetap relevan sebagai fondasi berpikir mendalam dan kritis. Di tengah arus informasi cepat, literasi digital menjadi kunci untuk memilah pengetahuan dan menjaga kualitas wacana publik.

Melalui Tutur Bangsa, pembaca diajak untuk terus mengikuti berita dan artikel lain seputar literasi, budaya, dan dunia kepenulisan guna memperkuat kesadaran literasi di tengah perubahan zaman.

Last Updated: 26 January 2026, 17:04

Bagikan: